Lagi-lagi, kubuka account ini. Tidak tahu, aku hanya membutuhkan beberapa ruang untuk menyalurkan apa yang hinggap di benak ini — sejak awal bulan.
10 menit yang lalu aku baru membuka file film Lolita tahun 1997 dan hendak menontonnya untuk yang kesekian kalinya, lupa, bahkan aku.
O Tuhan, bawa aku ke Britania Raya! Aku harus segera membangun pabrik permen! Aaaaa, aku harus memainkan big pipe pada malam takbiran! Ya ampun, aku ingin sekali dipeluk Mufasa.
Sudah deh, aku benar-benar menghabiskan hari ini dengan banyak berhalusinasi.
Omong-omong, aku heran mengapa Disney Channel sekarang ini menayangkan tayangan yang sangat teramat tidak bermutu, hal yang sangat disayangkan.
Nah, mulai lagi random-ku.
Ya sudah. Selamat bermalam jumat! (ngeselin gak?)

(Source: heart0f-g0ld)
Aku mencintaimu seperti aku melihat jejeran novel-novel di toko buku manapun — memboyong pulang semua, aku ingin rasanya.
Aku mencintaimu seperti aku mengunyah marshmallow bakar isi cokelat atau mencium aroma telur dadar buatan Mama — menghayal indahnya hidup dengan adanya keberadaan kalian di bumi ini. (Wah, yang ini memang berlebihan. Biarlah)
Aku mencintaimu seperti aku menanti-nanti film-film yang masih berderet di susunan ‘akan datang’ — betapa bahagianya, aku, ketika melihat itu semua di ‘tayang sekarang’ dan menilai kira-kira moral dan nilai apa yang dapat berguna di kehidupanku, tentunya dalam versi sok tahu di dalam diriku.
Aku mencintaimu seperti degupan kencang jantung ini berdetak saat melihat tanggal merah — aku memulai menghitung hari, kapan hari libur itu tiba; tak sabar diriku ini bertemu raut wajahmu yang selalu menarik senyuman di wajah; meraih tangan kananmu untuk dicium; menempelkan pipi kanan dan pipi kiri; sembari menciptakan rangkulan kecil seiring langkah kaki menuju mobil.
Papap, aku terlalu mudah untuk merindukanmu. Mama, kau terlalu menyebalkan bagiku untuk dipisahkan oleh jarak.
Rumah dan sakit — Homesick — sangat tidak indah bila diartikan satu persatu — karena jika harfiahnya rumah untuk orang sakit, akan menjadi Hospital — ya, kau boleh tertawa. Tetapi lebih baik tidak usah, karena tidak mengandung esensi humor sama sekali.
Bulan Mei ini, tepatnya hari Senin tanggal 28, akan menjadi kali ketiga aku kembali ke rumah. Hal yang jarang terjadi; dalam satu bulan aku mengeluarkan uang hanya untuk bolak-balik Bandung-Jakarta. Sebenarnya lebih tepat Tangerang Selatan. Hahaha.
Sejenak aku berpikir, apakah aku sangat berlebihan; lebih banyak menggunakan waktu untuk bertemu dengan keluarga, semakin aku ‘mengidam’ akan keberadaan mereka; rindu dan rasa ketergantungan ini tidak tertahankan. Kuyakin, tidak hanya aku yang memiliki perasaan seperti ini. Bukan, ini bukan pembelaan diri. Aku hanya ingin mengelak bahwa perasaan campur aduk ini berasal dari usia kami yang terbilang menuju dewasa. Aduh, agak konyol menulis kalimat barusan, tapi tak apalah.
Sebelum aku menulis ini, aku sempat melihat postingan Kyana di Dashboard-ku tentang rasa bersyukurnya kepada Tuhan terlebih ia sudah lebih dulu menjadi gadis berumur 20 tahun — setidaknya ia lebih dulu 36 hari dibanding diriku (ya, aku sempat menghitungnya dari 23 April sampai 29 Mei, konyol ya) — dan tulisanku ini juga akan menyinggung sedikit tentang ulang tahun.
Ya, sehari setelah hari Senin, dimana aku akan kembali lagi ke rumah, itu adalah hari ulang tahunku.
Singkat cerita, aku sangat menanti hari Senin itu dan sangat menghargai usaha kalian semua yang ada di dunia ini bagaimana caranya agar aku tidak mengalami hari setelahnya, yaitu hari Selasa, 29 Mei? Sungguh, aku akan termenung— beri aku jalan agar tumbuh sikap lebih dewasa yang signifikan agar menjadi komplementer sikap kekanakan ini seiring berjalannya detik. Ya Tuhan, Kau dengar aku, bukan?

(Source: dtheparanoid)
Sudah tengah malam. Apa yang kau lakukan saat ini?
Ah, hanya mentelaah apa yang sudah kucerna ke dalam otak. Ujian akhir ini membunuhku perlahan.
Hanya itu sajakah?
Ya, mungkin. Tunggu. Sejak tadi aku merasakan suatu gerakan aneh yang tidak asing lagi, sebetulnya. Suara yang secara harafiahnya seakan-akan meronta-ronta ingin keluar dari rongga lapisan dimana suara itu berasal.
Jangan begitu, dong. Kau ini sering menggunakan waktumu untuk berhalusinasi.
Tidak kali ini. Ya, aku merasakan gerakan-gerakan alami tersebut. Bahkan, seperti yang sudah kubilang, itu bersuara. Ya ampun, apakah kau tak mendengarnya?
Apa yang kau bicarakan sebenarnya?
Diam, sebentar. Nah, bunyi itu! Ya, itu! Gemuruh suara itu berasal dari gerakan yang tidak dapat terdeteksi. Uhm, mungkin saja bisa kuselidiki, tetapi ada rasa menggelitik dengan hanya merasakannya.
Tidak kah sebaiknya kau cari tahu?
Apakah kau takut? Haha. Yang benar saja. Tapi baiklah, aku akan mencari sumber bunyi aneh tersebut. Uhm, sepertinya disini. Ah, bukan. Sebentar… Bunyi dan gerakan itu lenyap!
Oh ya? Coba lebih seksama!
Ya, baiklah. Uhm… Naaaahhhh! Sshhh! Sudah mulai terdengar lagi! Sssshhh! Bunyi ini mengandung seni, setidaknya seperti itu yang ada dipikiranku. Aku tidak bisa meniru seni macam ini. Ah, ‘mereka’ sedang meciptakan gerakan-gerakannya. Kau mau merasakannya? Tidak terlalu signifikan jadi harus menggunakan perasaan untuk merasakannya, apakah kau mau?
Aku? Merasakannya? Menggunakan perasaan? Harus kusentuh ‘itu’?
Ya, memang menurutmu bagaimana seharusnya?
Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mahir dalam pengeksplorasian kasih sayang seperti itu. Tidak.
Kau ini, bicara apa?
Kau tahulah.
Tidak, aku tidak tahu. Memangnya apa?
Lupakan saja. Tidak penting.
Ya, memang tidak penting. Aku hanya ingin sepiring nasi putih dengan telur mata sapi. Oh, Tuhan, sepertinya akan sangat lezat. Atau semangkuk mie instan dengan kuah — salah satu seni dalam melahapnya adalah ketika kacamataku berembun terkena uap panasnya. Lezatnya…
Aku tidak mengerti.
Kau ini, daritadi apa sih yang kau paham? Kau tidak pernah merasakan lapar ditengah malam sepertiku? Tidak pernah?
Lapar? Sekarang kau lapar? Yang lapar itu kau atau janin yang didalam tubuhmu?
Apa? Kau ini…maksudmu apa?! Ngawur! Janin?
Aduh. Rasanya aku ingin lompat dari atas patung pancoran Jakarta Selatan dan jatuh diatas truk berisikan bola-bola warna-warni layaknya tempat bermain balita! Ah! Ya, kau benar, aku ngawur!
Lanjutkan…
Ya. Kupikir, dengan segala gerakan-gerakan dan bunyi-bunyi dari antah-berantah itu…dan kau menyelidiki sambil mengusap-usap perutmu… Kupikir kau hamil. Mengapa aku begitu rancu?
Ya, Tuhan! Hahaha. Rancu dan dungu! Apa yang merasukimu? Kau tidak lihat, dirimu sangat tidak beraturan padahal sebenarnya aku yang sedang ditempa beban.
Aku sendiri tidak mengerti. Lantas, kau sendiri kenapa? Beban apa maksudmu?
Ah. Aku tidak dapat membeberkan semua. Hanya perasaan gundah, terancam, dan gejolak tidak pasti yang hanya membuatku seakan-akan tersesat dan terjerat di suatu tempat. Gelap, asing, dan rapuh.
Ah, anak muda. Jangan terlalu dipikirkan. Usia sepertimu memang patut mengalami perasaan tidak tentu. Bahkan, disetiap tahap usia pun begitu.
Tidaklah mudah memiliki perasaan seperti ini. Kadang aku merasa tidak sanggup, bahkan hampir selalu ingin menyerah.
Kau lapar kan? Apakah kau dapat langsung merasakannya tanpa harus menyelidiki darimana asal bunyi keroncongan itu dan menyentuh perutmu?
Ya, bisa saja.
Nah. Sama saja dengan halnya berjuang. Daritadi, kau sedang mentelaah bahan untuk ujian akhir. Kemudian perhatianmu terganggu oleh rasa laparmu. Anggap saja ujian akhir adalah tujuan hidupmu, rasa laparmu adalah musuh-musuhmu dalam artian elemen-elemen yang dapat menjatuhkanmu. Sebenarnya kau tidak perlu mengeksplorasi dan mencari tahu sumber dari hal-hal yang menjadi penghalangmu untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuanmu. Sungguh, hal itu tidak begitu penting. Dengan kau merasakannya, itu sudah cukup untuk membuatmu melakukan upaya untuk meminimalisir rasa itu. Kau lapar, maka kau makan. Setelah perutmu penuh terisi, kau akan merasa kenyang. Tetapi beberapa jam kedepan atau keesokan harinya, rasa lapar tersebut akan muncul kembali dan lagi lagi kau harus mengisi perutmu dengan makanan.
Uhm…
Sama halnya dengan pengaruh-pengaruh negatif di sekitarmu yang dapar membuatmu jatuh. Kau akan selalu merasakan dan mengalami hal-hal seperti itu. Dimanapun dan kapanpun, karena tidaklah mungkin dalam menjalani suatu tujuan tanpa disertai tantangan-tantangan. Dari situlah kau akan berusaha bertahan dengan berbagai cara layaknya kau mengisi ‘amunisi’ atau makanan kedalam perutmu — setelah kau berhasil melewati satu demi persatu tantangan, kau akan merasa lega dan bersyukur bahwa kau mampu. Di hari berikutnya akan ada tantangan-tantangan dan penghalang-penghalang lainnya dan lagi, kau akan memutar otakmu agar kau bisa menyingkirkan itu satu persatu. Jadi, pada dasarnya hal negatif akan selalu ada — hanya saja bagaimana kita mengatasinya. Sangat klise, bukan?
Ya, tetapi…terima kasih banyak karena telah membawa kembali visiku terhadap hal yang sedang kuperjuangkan ini. Sepertinya, aku yang lebih runyam dan dungu dibanding kau. Haha.
Jangan berterima kasih kepadaku. Suatu saat, kau akan berterima kasih kepada energi-energi negatif yang membuat hidupmu menjadi penuh rintangan tersebut — tanpanya, kau orang yang hanya mahir di samudera yang tenang — terdengar dungu ya, tetapi ya, intinya, tanpa rintangan seperti itu, kau tidak akan mengerti tentang tantangan hidup dan kau hanya hidup didalam poros yang ‘aman’. Memang semua orang tidak ada yang mau berada dalam bahaya, tetapi apa lezatnya hidup — seperti semangkuk mie instan dengan kuah katamu — jika kau tidak pernah melakukan perbedaan dan perubahan?
Semoga Kamis-mu menyenangkan!

(Source: throughthelight)

(Source: extraordinaryevidence)